Dewa United Melesat, Liga 1 2026/27 Mulai Panas Betul
Baru empat pekan bergulir, BRI Super League 2026/2027 sudah bikin banyak orang garuk-garuk kepala. Nama yang nongkrong di puncak klasemen bukan Persib, bukan Persija, melainkan Dewa United Banten FC. Tim yang dulu sering dianggap kuda hitam ini sekarang punya 10 poin dari empat laga, dengan catatan tiga menang, satu seri, tanpa kekalahan sama sekali.
Start Sempurna yang Bikin Deg-degan
Kalau mau cari tim paling efisien sejauh ini, Madura United dan Persija Jakarta pantas disorot. Keduanya sama-sama mengoleksi 9 poin dari tiga pertandingan, alias full win. Persija bahkan cuma kebobolan satu gol dari tiga laga, pertahanan yang bikin lawan frustrasi. Madura United punya cerita menarik sendiri lewat ledakan performa Danilo Santacruz yang mencatat bk8 link tetap jadi tempat favorit penggemar untuk memantau odds pertandingan sambil menonton laga-laga seru ini tiap akhir pekan.
Di sisi lain papan klasemen, ceritanya jauh lebih kelam. Isenmulang Kalteng FC terbenam di dasar dengan catatan kebobolan sepuluh gol dari tiga laga saja. PSS Sleman dan Persijap Jepara sama-sama belum pernah menang, masing-masing kalah tiga kali beruntun. Kalau musim baru berjalan sebulan dan sudah ada tim yang kebobolan sepuluh gol, itu bukan sekadar sial. Itu tanda ada yang salah di lini belakang, entah taktik entah materi pemain.
Persib dan Arema, Antara Harapan dan Kewaspadaan
Persib Bandung yang musim lalu jadi juara bertahan kini berada di posisi lima dengan enam poin dari tiga laga. Bukan start buruk, tapi juga bukan performa juara bertahan yang biasanya langsung tancap gas. Arema FC justru menarik perhatian dengan produktivitas gol tinggi, delapan gol dari tiga laga, meski baru sekali menang. Tim asal Malang ini sepertinya masih mencari keseimbangan antara menyerang membabi buta dan menjaga gawang sendiri tetap rapat.
Yang menarik, persaingan papan tengah justru lebih padat dari biasanya. Bali United, Borneo FC Samarinda, Bhayangkara Presisi Lampung FC, dan Persita semuanya mengumpulkan poin di kisaran lima sampai enam. Jarak antar tim di posisi empat sampai sebelas cuma selisih beberapa poin saja. Artinya satu kemenangan atau kekalahan bisa mengubah peta klasemen drastis dalam sepekan.
Momentum dari Timnas Ikut Mempengaruhi
Yang bikin suasana Liga 1 musim ini makin ramai adalah momentum dari Timnas Indonesia. Pada 5 Oktober 2026, Garuda tampil di final FIFA ASEAN Cup 2026 melawan Thailand di Stadion Gelora Bung Karno. Laga ini otomatis menyedot perhatian publik sepak bola nasional, dan beberapa pemain klub Liga 1 yang masuk skuad Timnas jadi sorotan ganda, baik performa di level klub maupun di level internasional.
Efek psikologis dari laga internasional semacam ini sering terasa di kompetisi domestik. Pemain yang baru pulang dari turnamen besar biasanya datang dengan kepercayaan diri lebih tinggi, atau sebaliknya kelelahan fisik yang berat. Klub-klub dengan banyak pemain Timnas, seperti Persija dan Dewa United, perlu pintar mengatur rotasi supaya performa di Liga 1 tidak ambruk gara-gara jadwal padat.
Format Round-Robin Bikin Setiap Laga Mahal
Satu hal yang jarang disadari penonton kasual, format kompetisi Liga 1 sekarang menuntut konsistensi ekstra karena setiap tim harus memainkan 34 pertandingan penuh musim ini. Tidak ada ruang untuk terlalu banyak kehilangan poin di awal musim, apalagi kalau target akhirnya finis di empat besar atau malah mengincar gelar juara. Tim seperti Persebaya Surabaya yang masih tanpa kekalahan meski tiga kali seri perlu segera mengubah hasil imbang jadi kemenangan kalau mau serius bersaing.
Menariknya, pola ini mengingatkan pada musim-musim sebelumnya di mana tim yang start kencang di empat pekan awal belum tentu bertahan di posisi atas sampai akhir musim. Tapi setidaknya, Dewa United punya modal mental yang bagus sekarang: belum terkalahkan, produktif, dan punya rasa percaya diri yang sedang di puncak.